Menjelang akhir abad ke-15, Sunda Kelapa semakin berkembang pesat. Ini dibuktikan dengan catatan perjalanan seorang penjelajah Portugis bernama Tomé Pires pada awal abad ke-16. Pires menyebutkan dalam laporannya, Suma Oriental, bahwa Kerajaan Sunda memiliki beberapa pelabuhan penting di pesisir utara Jawa, dan di antara semuanya, “Calapa” (Sunda Kelapa) adalah pelabuhan yang paling bagus dan strategis.
Keberadaan bangsa Portugis di Jakarta, yang dulunya bernama Sunda Kelapa, memang singkat dan tidak meninggalkan jejak fisik berupa bangunan kolonial yang mencolok seperti yang dilakukan Belanda. Namun, bukti kehadiran mereka tetap dapat ditelusuri melalui beberapa peninggalan tidak langsung yang ada hingga kini.
Bukti Sejarah dan Arkeologi
- Prasasti Perjanjian Sunda-Portugis (Padrao Luso-Sundanese): Ini adalah bukti tertulis paling kuat tentang kehadiran Portugis di Jakarta. Prasasti batu ini didirikan pada 21 Agustus 1522 di mulut Sungai Ciliwung, dekat lokasi yang sekarang menjadi Museum Bahari. Prasasti ini menandai perjanjian antara Kerajaan Sunda dan Portugis untuk mendirikan sebuah loji (pos dagang) dan benteng. Meskipun benteng tidak pernah terwujud karena direbutnya Sunda Kelapa oleh pasukan Fatahillah, prasasti ini menjadi saksi bisu adanya kesepakatan tersebut. Padrao ini sekarang tersimpan di Museum Nasional, Jakarta.
- Peninggalan Bangunan (Tidak Langsung):
- Gereja Tugu: Meskipun gereja ini dibangun jauh setelah era Portugis, nama “Tugu” sendiri berasal dari kata Portugis, “tugu” yang berarti prasasti. Nama ini merujuk pada Padrao Luso-Sundanese yang sempat dipindahkan ke daerah Tugu sebelum akhirnya dipindahkan ke Museum Nasional. Keberadaan gereja ini di kawasan yang dulunya dihuni oleh keturunan Portugis di Jakarta Utara menjadi bukti historis tentang komunitas yang terhubung dengan mereka.
Bukti Bahasa, Tradisi, dan Budaya
Meskipun pengaruhnya tidak sedalam Belanda, Portugis meninggalkan jejak linguistik dan budaya yang masih bertahan hingga saat ini, terutama melalui komunitas Kampung Tugu.
- Bahasa Portugis: Keturunan Portugis di Kampung Tugu, Jakarta Utara, dikenal sebagai orang-orang Mardijkers. Mereka menguasai bahasa Kreol Portugis atau “Portugis pasar” yang merupakan perpaduan bahasa Portugis dengan bahasa-bahasa lokal. Meskipun bahasa ini sudah punah, sisa-sisa katanya masih dapat ditemukan dalam beberapa kata di Bahasa Indonesia, seperti:
- “meja” dari mesa
- “jendela” dari janela
- “gereja” dari igreja
- “sepatu” dari sapato
- “pesta” dari festa
- Tradisi dan Budaya:
- Musik Keroncong Tugu: Salah satu warisan budaya paling terkenal adalah musik keroncong, yang akarnya berasal dari musik Fado Portugis. Komunitas Kampung Tugu sangat aktif melestarikan musik ini dengan alat musik khas seperti ukulele, biola, dan gitar. Musik keroncong Tugu memiliki irama yang khas dan sering dinyanyikan dalam perayaan adat.
- Tradisi Mandi di Sumur: Hingga kini, ada tradisi unik di Kampung Tugu, yaitu Tradisi Mandi-Mandi yang dilakukan setiap tahun setelah perayaan Natal. Tradisi ini diyakini sebagai simbol pembersihan diri dan menjadi salah satu acara budaya yang dilestarikan oleh komunitas setempat.
Secara keseluruhan, meskipun tidak ada gereja atau benteng Portugis yang utuh di Jakarta, kehadiran mereka dapat dilihat melalui prasasti, nama tempat, jejak bahasa, dan warisan budaya yang masih hidup di komunitas Kampung Tugu.